Thursday, 6 September 2018

Sudah dua malam berturut-turut, ada dua orang yang curhat langsung ke aku, dengan luapan emosi yang berbeda. Malam ini, bahkan, dia sampai menangis sesenggukan di depan mataku. Rasanya sakit luar biasa, ketika melihat ada orang menangis langsung di depan mata, sambil menumpahkan isi hatinya, mencoba untuk tegar. I could feel it. I could feel the pain.

Aku mengerti ketika dia memilih untuk diam dan memendam semuanya sendiri. Merasa permasalahannya bukan suatu hal yang pantas untuk diceritakan. Merasa permasalahannya adalah masalah sepele yang tidak pantas untuk diceritakan dan didengarkan. Aku mengerti ketika dirinya merasa tidak ada yang mengerti keadaannya, tidak ada yang mau mendengarkan, sampai memilih untuk memendam segala kepedihannya sendiri. Because I have that kind of feeling until now and I don't want her to be like me. I want her to know that there will be someone that listen to her, whatever she talks about.

Rasanya menyakitkan, ketika tidak ada yang mau mendengarkan, apalagi ketika bagi kita permasalahan itu begitu berat, tapi tidak bagi orang lain. Somehow, itu membuat kita merasa diri kita tidak ada harganya di mata orang lain sampai apa yang kita ceritakan, apa yang kita katakan, tidak pernah dirasa penting. Sebegitu besar efek ketika kita tidak mau mendengarkan orang lain, tidak menghargai apa yang orang lain katakan, tidak menunjukkan ketertarikan pada apa yang diceritakan oleh orang lain, padahal mereka sedang butuh untuk didengarkan.

Sometimes we can't give any help, but we still have ears to listen, so why can't we just listen and give somebody spirit and positive energy? Maybe it can make them a little bit happy and it can make them feeling better. Who knows.

Semakin ke sini, semakin banyak bertemu dengan orang yang berbeda, semakin aku merasa telinga yang Allah kasih buat kita sangat berharga. Salah satunya karena dengan dua telinga kita yang normal, kita bisa membantu meringankan beban orang lain. Padahal hanya dengan mendengarkan. Kalau kita juga bisa membantu, berjalan beriringan, menemani di setiap langkah mereka, pasti mereka akan lebih senang, termotivasi, dan tidak lagi merasa kesepian dan sendirian, karena rasa kesepian dan sendirian itu tidak pernah menyenangkan. I know that feeling. Somehow it can kill us from the inside. Lebih sakit lagi ketika kita harus berpura-pura segalanya baik-baik aja.


Jurnal Inspirasi . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates